TARAKAN – KALTARA, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tarakan melakukan assessment dan memberikan layanan pertolongan pertama serta pelayanan kesehatan di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas sekitar 30 hektare di Jalan Sungai, Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat (14/8/2026).
Kepala Markas PMI Kota Tarakan Eva Marwah Lestari, S.Pd., yang berada langsung di lokasi kejadian mengatakan, tim PMI diterjunkan untuk melakukan pemantauan kondisi lapangan sekaligus memastikan kebutuhan layanan kesehatan bagi petugas dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
“Tim kami melakukan assessment dan memberikan pertolongan pertama apabila ada petugas maupun masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan di lokasi,” kata Eva saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat.
Ia menjelaskan, dalam penanganan tersebut PMI Kota Tarakan mengoperasikan satu unit ambulans sebagai kendaraan operasional. Tim juga membawa perlengkapan komunikasi berupa telepon seluler dan handy talky (HT) untuk mendukung koordinasi selama berada di lapangan.
Menurut Eva, hingga pembaruan laporan pada Jumat malam pukul 19.53 Wita, tidak terdapat kendala berarti yang dihadapi tim PMI dalam menjalankan pelayanan di lokasi.
“Untuk sementara tidak ada kendala yang kami hadapi dalam pelaksanaan pelayanan di lapangan,” ujarnya.
Penanganan KARHUTLA tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan sejumlah unsur terkait. Di lokasi, PMI Kota Tarakan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan, Bhabinkamtibmas Juata Laut, unsur TNI Angkatan Laut, Polsek Tarakan Utara, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan, warga sekitar, serta unsur koordinator lapangan.
Kehadiran PMI dalam penanganan karhutla difokuskan pada aspek kemanusiaan, terutama pemantauan kondisi kesehatan dan pemberian pertolongan pertama. Sementara penanganan kebakaran dan pengendalian api dilakukan secara terpadu oleh unsur yang terlibat sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Eva mengatakan koordinasi lintas unsur menjadi bagian penting dalam penanganan kejadian di lapangan, mengingat kondisi karhutla dapat berkembang dan berpotensi berdampak terhadap masyarakat di sekitar lokasi.
“Yang paling penting adalah koordinasi antarpetugas di lapangan agar setiap perkembangan dapat segera diketahui dan kebutuhan penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi,” katanya.