TARAKAN – KALTARA, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalimantan Utara memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mendistribusikan 50.000 masker ke seluruh PMI kabupaten/kota serta menyiapkan pembukaan Ruang Oksigen PMI untuk membantu masyarakat terdampak asap.
TARAKAN – KALTARA, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalimantan Utara memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mendistribusikan 50.000 masker ke seluruh PMI kabupaten/kota serta menyiapkan pembukaan Ruang Oksigen PMI untuk membantu masyarakat terdampak asap.
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan yang dipimpin Ketua PMI Provinsi Kalimantan Utara Ir. Risdianto, S.Pi., M.Si., di Markas PMI Kota Tarakan, Selasa (1/9).
Risdianto mengatakan penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi harus disiapkan melalui langkah antisipasi dan penguatan kapasitas pelayanan di lapangan.
“Kita harus memastikan PMI kabupaten/kota memiliki kesiapan untuk merespons dampak karhutla, baik dari sisi perlindungan masyarakat maupun pelayanan kesehatan. Dukungan masker ini menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat kesiapsiagaan tersebut,” kata Risdianto.
Sebanyak 50.000 masker yang merupakan dukungan dari Pengurus PMI Pusat selanjutnya didistribusikan kepada PMI kabupaten/kota se-Kalimantan Utara. PMI Kabupaten Bulungan memperoleh 12.000 masker, PMI Kota Tarakan 12.000 masker, PMI Kabupaten Nunukan 12.000 masker, PMI Kabupaten Malinau 6.000 masker, dan PMI Kabupaten Tana Tidung 4.000 masker.
Menurut Risdianto, distribusi masker tersebut diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan warga yang beraktivitas di wilayah terdampak asap karhutla.
Selain karhutla, PMI Kaltara juga mempersiapkan operasi kekeringan di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, dan Kabupaten Nunukan. Operasi tersebut diarahkan pada distribusi air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan serta kampanye penggunaan air secara hemat.
“Kekeringan juga harus kita antisipasi. PMI akan menyiapkan operasi distribusi air bersih sekaligus mengajak masyarakat untuk menghemat air. Jangan sampai kita bergerak setelah kondisi sudah menjadi krisis,” ujarnya.
Untuk memperkuat respons terhadap dampak asap, PMI Kaltara juga merencanakan pembukaan Ruang Oksigen PMI. Fasilitas tersebut dipersiapkan sebagai ruang pelayanan kesehatan darurat untuk memberikan terapi oksigen dan pemantauan awal bagi masyarakat yang mengalami sesak napas, kekurangan oksigen, atau gangguan pernapasan.
Risdianto menegaskan keberadaan Ruang Oksigen menjadi bagian dari upaya PMI mendekatkan layanan kemanusiaan kepada masyarakat ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.
“Ruang Oksigen ini kita siapkan sebagai bagian dari respons cepat PMI. Ketika masyarakat mengalami gangguan pernapasan akibat asap, kita ingin ada layanan awal yang dapat diberikan secara cepat sebelum pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut,” katanya.
Risdianto menyampaikan apresiasi kepada Pengurus PMI Pusat yang telah memberikan dukungan 50.000 masker untuk memperkuat kesiapsiagaan PMI di Kalimantan Utara.
Ia juga memberikan penghargaan kepada jajaran pengurus, staf, dan relawan PMI yang selama ini aktif terlibat dalam penanganan karhutla dan berbagai kejadian bencana di wilayah Kaltara.
“Terima kasih kepada seluruh pengurus, staf, dan relawan yang terus berada di lapangan. PMI tidak bisa bekerja sendiri. Kekuatan utama kita adalah kolaborasi dan kecepatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap dukungan serupa dapat diperkuat melalui keterlibatan mitra dan dunia usaha dalam penanganan bencana dan pelayanan kemanusiaan.
“Kami mengajak dunia usaha dan para mitra untuk ikut berpartisipasi. Dukungan dapat diberikan secara langsung maupun melalui PMI Provinsi dan PMI kabupaten/kota. Semakin banyak pihak yang bergerak bersama, semakin besar manfaat yang dapat kita berikan kepada masyarakat,” kata Risdianto.