PMI KALTARA INGATKAN ANCAMAN EL NINO KUAT DAN IOD POSITIF HINGGA 2027

TANJUNG SELOR, KALTARA — Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalimantan Utara mengingatkan masyarakat dan Pemerintah Daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman El Nino kategori kuat yang berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, karena berpotensi memicu kekeringan, krisis air bersih, penurunan produktivitas pertanian hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

TANJUNG SELOR, KALTARA — Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalimantan Utara mengingatkan masyarakat dan Pemerintah Daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman El Nino kategori kuat yang berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, karena berpotensi memicu kekeringan, krisis air bersih, penurunan produktivitas pertanian hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketua PMI Provinsi Kalimantan Utara Ir. Risdianto, S.Pi., M.Si. mengatakan berdasarkan pemantauan pada Agustus 2026, indeks ENSO telah mencapai +1,59 yang menunjukkan kondisi El Nino kuat. Bahkan, terdapat peluang 75 persen fenomena tersebut meningkat menjadi kategori sangat kuat hingga Oktober 2026.

“Walaupun Kalimantan Utara diproyeksikan relatif lebih aman dibandingkan wilayah selatan garis khatulistiwa, kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah mitigasi sejak dini,” kata Risdianto di Tanjung Selor, Jumat.

Menurut dia, kombinasi El Nino dan IOD positif dapat mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung cukup panjang, sekitar sembilan hingga 12 bulan, meskipun hujan secara bertahap diperkirakan mulai masuk pada pertengahan Oktober 2026.

Risdianto menyebut periode Agustus hingga September menjadi fase yang perlu diwaspadai karena curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.

“Di Kalimantan Utara, kekeringan sudah mulai dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Nunukan. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan penanggulangan bencana tidak cukup hanya dengan merespons ketika bencana terjadi, tetapi harus mengutamakan antisipasi berdasarkan informasi iklim,” ujarnya.

Dampak kekeringan juga berpotensi meningkatkan risiko Karhutla. Dalam hampir sebulan terakhir, kebakaran lahan terjadi di sejumlah lokasi di Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan. PMI bersama BPBD Kabupaten/Kota dan Mitra lainnya turut membantu penanganan kejadian tersebut.

Risdianto mengatakan telah menginstruksikan PMI kabupaten/kota se-Kalimantan Utara untuk meningkatkan Kesiapsiagaan serta memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah.

PMI Kaltara juga mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air, tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan selama periode kering.

Untuk mendukung kesiapsiagaan, PMI Kaltara telah menyiagakan personel Satuan Penanggulangan Bencana (Satgana) PMI yang tersebar di lima Kabupaten/Kota. PMI juga menyiapkan dua unit truk tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter yang ditempatkan di Tanjung Selor dan Nunukan. Serta layanan Kesehatan dengan menyiagakan Personil PMI terlatih dan 9 Mobil Ambulance yang tersebar di 5 Kabupaten/Kota.ELE

Selain itu, PMI Kaltara berkoordinasi dengan PMI Pusat untuk memperoleh dukungan apabila dampak El Nino berkembang dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Login Admin